ikla

Wednesday, 13 January 2016

EVALUASI STRUKTUR, KAIDAH, DAN ISI TEKS EDITORIAL/OPINI

Tujuan Pembelajaran:
Siswa mampu mengevaluasi struktur, kaidah, isi teks editorial/ opini.
Sebelumnya kamu sudah mempelajari struktur, kaidah, dan isi teks editorial. Struktur teks editorial adalah sebagai berikut.
1. Tesis atau teks opini diawali dengan pernyataan pendapat terhadap sebuah permasalahan. Pada bagian ini penulis mengungkapkan opininya secara umum terhadap sebuah permasalahan.
2. Argumentasi
3. Pernyataan ulang
      Selain struktur, teks editorial/ opini juga memiliki kaidah. Kaidah-kaidah yang harus ditaati dalam penulisan teks editorial adalah sebagai berikut.

  1. Memiliki kalimat utama pada setiap paragrafnya.
  2. Menggunakan adverbial frekuensi, seperti sering, kadang-kadang, jarang, dan kerap.
  3. Menggunakan konjungsi yang digunakan untuk menata argumentasi, seperti pertama, kedua, kemudian, dan berikutnya.
  4. Menggunakan konjungsi untuk memperkuat argumentasi, seperti bahkan, juga, selain itu, lagi pula, serta justru.
  5. Menggunakan konjungsi yang menyatakan harapan, seperti agar.
  6. Menggunakan kata kerja material, relasional, dan mental.
  7. Menggunakan kosakata ilmiah, seperti implementasi, inflasi, dan kredibilitas.       Setelah memahami struktur dan kaidah, tiba saatnya kamu mengevaluasi struktur, kaidah, dan isi teks editorial/ opini. Dalam mengevaluasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
  1. Dari segi isi, kamu harus mengecek apakah tulisan editorial sudah mencakup pernyataan pendapat, argumentasi, dan pernyataan ulang.
  2. Berkaitan dengan bagian argumentasi, apakah dalam uraian tersebut sudah ada data dan fakta pendukung untuk memperkuat pendapat penulis.
  3. Dari segi kaidah, kamu harus mengecek hal-hal yang berkaitan dengan kaidah teks editorial/ opini. Apakah penulis sudah menguraikan teks editorial/ opini sesuai dengan kaidah yang dijabarkan dalam teks editorial/ opini.

    Perhatikan contoh.

Mama, Aku Tidak Nakal dan Bodoh

(1) Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya bermasalah. Demikian juga anak, tidak ada anak yang mau dicap anak nakal dan bodoh. Karena pada dasarnya, tidak ada anak nakal dan bodoh. Seorang anak melakukan sesuatu yang dianggap salah oleh orang dewasa karena ketidaktahuannya atau karena dorongan rasa ingin tahunya yang kuat.
(2) Namun pernahkah orang tua berpikir, seorang anak kelihatannya seperti nakal karena ada dorongan dalam dirinya. Ia tidak bisa mengendalikan dorongan dirinya. Ia inginnya bergerak terus. Ia tidak mampu duduk diam sebentar, atau konsentrasi sebentar.
(3) Memang, tidak banyak orang tua dan guru yang dapat memahami permasalahan anak. Bisa jadi seorang anak mengalami gangguan konsentrasi lalu stigma anak nakal dan bodoh sudah terlanjur menempel padanya.
(4) Banyak orang tua yang tidak paham, bahkan tidak peduli dengan kesulitan anak. Mereka justru memperlakukan anak tidak sebagai mana mestinya. Bahkan yang lebih parah lagi, orang tua sering kali salah menetapkan solusi atas permasalahan ini. Akbibatnya, anak bukan tambah berkembang, malah makin menurun prestasinya.
(5) Sebenarnya anak yang tidak bisa diam dan sulit berkonsentrasi bukanlah anak nakal dan bodoh. Anak seperti ini memang memiliki ciri tidak mampu bertahan lama mendengarkan guru mengajar. Mengerjakan tugas pun tidak akan selesai. Jika kecerdasannnya diukur dari prestasi belajar, anak model ini kerap dianggap sebagai anak bodoh. Padahal, ia bukan tidak mampu mengerjakannya, tetapi konsentrasinya yang mudah teralih. Ia tidak mampu berkonsentrasi dalam jangka waktu tertentu.
(6) Para orang tua kurang menyadari bahwa kemungkinan anak-anak model ini memang kurang dalam hal akademis. Namun, mereka memiliki potensi lain yang belum tergali. Karena itu, tugas orang tua dan guru untuk mencari potensi-potensi yang belum tergali pada anak-anak seperti ini. Mereka juga perlu penanganan yang tepat agar kepandaian yang sesungguhnya dapat tergali.

Marilah kita mengevaluasi teks editorial/ opini yang telah kamu baca.

1. Ditinjau dari segi struktur, teks yang berjudul Mama, Aku Tidak Nakal dan Bodoh terdiri atas 3 bagian yakni: (1)pernyataan pendapat yang terdapat dalam paragraf 1. Pernyataan pendapat pada teks tersebut mengungkapkan bahwa tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya bermasalah. Demikian juga, tidak ada anak yang mau dikatakan nakal dan bodoh. (2) Argumentasi yaitu paragraf 2 sampai dengan 6. Isi argumentasi pada teks ini adalah bahwa anak yang dianggap bodoh dan nakal ini tidaklah seperti stigma yang menempel pada mereka. Mereka bukanlah bodoh namun mereka memiliki masalah dengan konsentrasi. Karena masalah konsentrasi itulah, kemampuan akademis berada di bawah rata-rata.(3) Pernyataan ulang pendapat penulis. Penulis mengulang pendapatnya bahwa tidak ada orang tua yang mengingkan anaknya bermasalah. Demikian juga anak, tidak ada anak yang mau diberi stigma bodoh dan nakal. Karena itu, berdasarkan evaluasi struktur, teks di atas masuk dalam kategori teks editorial/ opini.
2. Ditinjau dari segi isi, teks yang berjudul Mama, Aku Tidak Nakal dan Bodoh dapat dikategorikan teks editorial/ opini karena teks ini mengungkapkan pendapat penulis terhadap fenomena yang terjadi pada masyarakat. Namun terdapat sedikit kelemahan pada teks tersebut. Teks ini kurang ditunjang pada data dan fakta. Penulis lebih banyak mengungkapkan pendapatnya dibanding data.
3. Ditinjau dari dari segi kaidah, ada beberpa kaidah yang digunakan dalam teks ini. Misalnya saja penggunaan adverbial frekuensi pada beberapa kalimat, seperti Nilai-nilainya pun jarang bagus, kecuali pelajaran yang benar-benar memang ia suka. Bahkan yang lebih parah lagi, orang tua sering kali salah menetapkan solusi atas permasalahan ini. Selain itu, teks di atas juga menggunakan konjungsi untuk memperkuat argumentasi, seperti pada kalimat Mereka justru memperlakukan anak seperti Rian tidak sebagai mana mestinya. Bahkan yang lebih parah lagi, orang tua sering kali salah menetapkan solusi atas permasalahan ini. Di samping kedua kaidah itu, teks ini juga memperkaya pembacanya dengan beberapa kosakata ilmiah, seperti korelasi, stigma, konsentrasi, dan tes IQ.

Poin Penting

Mengevaluasi teks editorial/ opini adalah menilai teks editorial/ opini. Penilaian atas teks tersebut berdasarkan kaidah, struktur, dan isi. Dalam mengevaluasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Dari segi isi, penilaian mencakup kelengkapan tiga bagian struktur editorial, yakni pernyataan pendapat, argumentasi, dan pernyataan ulang. Penilaian juga harus mengecek apakah argumentasi yang diungkapkan oleh penulis didukung oleh fakta dan data.

2. Dari segi kaidah, penilaian mencakup kaidah-kaidah yang digunakan dalam teks teks editorial/ opini. Apakah penulis sudah menguraikan teks editorial/ opini sesuai dengan kaidah yang dijabarkan dalam teks editorial/ opini.

No comments:

Post a Comment