Ditempa Waktu
Suara gemetar itu memenuhi ruang kelas. Seorang siswa berdiri di depan, tangannya gemetar, matanya menghindari tatapan teman-temannya. Wajahnya memerah, keringat mulai membasahi dahinya.
"Saya... saya akan mencoba..." suaranya nyaris tak terdengar.
Seisi kelas diam, sebagian berbisik, ada yang tersenyum simpul, ada juga yang benar-benar memperhatikan dengan serius. Inilah momen yang selalu saya nantikan dan sekaligus khawatirkan dalam pembelajaran berbicara di depan umum. Setiap siswa memiliki respons yang berbeda terhadap tantangan ini. Ada yang maju dengan percaya diri, ada yang butuh dorongan lebih, dan ada pula yang, seperti anak ini, tampak ingin menghilang saja dari hadapan semua orang.
Saya tersenyum lembut, berusaha memberikan rasa aman kepadanya. "Tidak apa-apa, tarik napas dulu. Kita semua di sini untuk belajar bersama."
Namun, bukannya membaik, ia justru semakin tegang. Sekian detik yang berlalu terasa begitu lama. Saya tahu, jika dibiarkan lebih lama, ini akan menjadi pengalaman buruk baginya. Saya pun mengambil langkah maju, memberikan saran bahwa ia bisa mencoba berbicara dengan mata tertutup atau menghadap ke dinding lebih dulu jika itu membuatnya lebih nyaman. Tapi ia hanya menggeleng, lalu menunduk. Hari itu, ia tidak menyelesaikan tugasnya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, saya menyadari bahwa ia tak lagi datang ke sekolah. Laporan yang saya terima dari wali kelasnya mengatakan bahwa ia telah pindah sekolah. Ada rasa sedih di hati saya. Apakah saya telah gagal membuatnya nyaman? Apakah tantangan yang saya berikan terlalu berat baginya?
Namun, di sisi lain, ada kisah-kisah yang berbeda. Siswa lain yang awalnya juga ragu-ragu mulai menunjukkan perkembangan. Ada yang mulai bisa berbicara dengan lancar, ada yang masih gemetar tetapi tetap mencoba, dan ada yang akhirnya menemukan bahwa berbicara di depan umum adalah salah satu keahliannya.
Salah satunya adalah Ardi. Ia bukan siswa yang paling menonjol di kelas, tapi setiap kali ia maju ke depan, ada semangat yang berbeda dalam caranya berbicara. Mungkin intonasinya belum sempurna, mungkin ada kata-kata yang masih terbata, tetapi ia selalu kembali, mencoba, dan semakin baik dari waktu ke waktu.
Tahun demi tahun berlalu. Siswa-siswa datang dan pergi. Beberapa dari mereka saya dengar berhasil dalam bidangnya masing-masing. Ada yang menjadi guru, ada yang menjadi MC profesional, ada yang bahkan menjadi wartawan terkenal, dan ada yang kini mengajar di perguruan tinggi sebagai dosen. Mereka telah menemukan suara mereka sendiri, suara yang pernah saya bantu bentuk dalam ruang kelas sederhana itu.
Namun, tak satu pun dari mereka kembali untuk mengucapkan terima kasih. Saya tidak menyalahkan mereka. Kehidupan terus berjalan, dan mereka memiliki jalan masing-masing. Tetapi dalam hati, saya tahu, di suatu tempat, suara mereka masih menggema, masih menginspirasi, dan itu sudah cukup bagi saya.
Saya tidak butuh ucapan terima kasih. Saya hanya ingin mereka terus berbicara, terus menginspirasi, dan terus menjadi diri mereka yang terbaik. Karena sejatinya, suara yang sejati bukanlah suara yang hanya didengar, melainkan suara yang mampu mengubah dunia, meski dimulai dari sebuah ruangan kecil, dengan tangan gemetar, dan suara yang nyaris tak terdengar.
No comments:
Post a Comment